Di ruangan itu
, 21 October 2012 at 9:36 PM, in
Aku termenung
Menatap hujan yang tak bersahabat
Turun bersamaan memusuhiku
Dingin yang merayapiku
Bagai sayatan kecil di kulitku
Sepi mulai melingkupiku
Sedih menghampiriku
Tangispun mulai merasukiku
Kututupi wajahku
Kututupi kesedihanku
Dipojok ruang itu
Aku menangis
Menatap hujan yg terus berdera
Mengurung diriku dan hatiku
Kenapa...?
, at 9:36 PM, in

Memangnya kenapa dengan hening?
Kebahagiaan yang abadi
, at 9:36 PM, in

dari menulis kata-kata sederhana di atas kain kesadaran
dengan tinta air mata kepasrahan
dimana sepi adalah teman berbagi
dan hening adalah rumah ketenangan
Selain mimpi yang jadi kenyataan
hati yang selalu kaya dengan harapan
dan doa yang selalu dipanjatkan
keikhlasan yang begitu lapang
ketika kenyataan menjadi badai
memporakporandakan apa yang kita susun
atau menjadi pencuri
mengambil segala yang kita cinta dan kita genggam
buah kesabaran yang kita petik dari pohon pengalaman
kita mengunyahnya, menelannya, menjadikannya energi
dan tentu saja sambil menulis menjadi kata-kata sederhana sebagai cerminan jiwa
sepucuk surat untukmu
, at 9:35 PM, in
Inilah hidupku
selalu dan selalu penuh dengan indahnya cacian,merdunya hinaan dan damainya perbedaan
Sayangku...
Aku hanya bisa tersenyum
karna bagiku semua adalah santapan terlezatku setiap saat
hey,jangan kau tanyakan masalah hatiku
aku bukan seorang superman
atau sang dewa yang tak punya rasa dan hati
hatiku tersayat,bathinku menangis
namun aku tak pernah tau
untuk apa air mataku
Sayangku...
Yang ku tahu hanyalah mempertahankan birunya cinta dan hati kita
Yang ku tahu hanyalah
bertahan tuk selalu hidup
dalam kesendirian hidupku
Sayangku...
Buang saja semua dendam dihatimu
biarkan mereka terus berkicau tentang sebuah caci dan hina pada diriku
kucoba tuk selalu ikhlas menerima
tanpa dendam,tanpa air mata
karena kuyakin Tuhan selalu menyayangi dan melindungiku
Sayangku...
Aku sayang kamu
kan kupertahankan cinta kita sekuat hati dan jiwaku...
Sebuah Harapan Kecil
, at 9:35 PM, in
Kupandangi sebuah foto pemandangan yang menggantung di hadapanku.
Sebuah jalan kecil yang panjang, disertai dengan pepohonan yang mendampingi jalan tersebut. Tanah yang dipenuhi oleh daun-daun kering yang berguguran.
Kututup mataku …
mencoba merasakan diriku berjalan di jalan kecil tersebut …
Kurasakan udara yang sangat segar dan angin sepoi-sepoi menerpa diriku, Mencoba merasakan sebuah kedamaian yang selama ini aku cari,
Aku berjalan di jalan kecil tersebut dengan sebuah senyuman …
Senyuman kecil yang membuat jantungku berdebar-debar dan sangat menyesakkan dadaku …
Aku menghela nafasku, berusaha menghilangkan kegundahan yang kurasakan saat ini …
Kupandangi jalan tersebut dengan sebuah harapan … sebuah harapan kecil yang indah …
Aku terus berjalan menyusuri jalan kecil ini … berusaha mencari akhir dari perjalanan ini …
Aku berjalan dengan penuh kegundahan dan kecemasan …
Kupandangi sekali lagi ujung jalan tersebut …
Berusaha mencari sebuah sosok yang akan berpaling padaku dengan senyuman hangat yang membuat perasaanku nyaman, terlindungi dan menjadi seseorang yang paling bahagia di dunia ini,
Dengan mengulurkan tangannya padaku, tangan yang menawarkan sebuah kebahagiaan … dan akupun meraihnya tanpa keraguan sedikit pun dalam hatiku …
Hanya sebuah harapan kecil yang membuat aku terus berjalan … mencari akhir dari perjalanan ini …
Apakah akan berakhir bahagia ataukah sebuah air mata yang akan mengakhirinya ….
Di Setiap Malam....
, at 9:35 PM, in
Aku benci bila malam tiba … semuanya gelap, sepi dan terancam …
Malam adalah waktu dimana semua yang ada pada diriku berperang … hatiku … pikiranku … semuanya. Kepalaku pening mendengar mereka bertengkar tiada hentinya … dadaku pun sesak … semuanya berbicara … semuanya berteriak
Pikiran dan hati ini jahat, tidak ada ampun buat mereka … malaikat telah mencatat apa yang aku pikirkan … malaikat telah mencatat apa yang telah aku lakukan hari ini, kemarin …
Aku memikirkan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan … aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan …
Tapi semua itu terlambat … tidak ada jalan kembali, aku tidak bisa merubahnya, tidak ada jalan keluar dan tidak ada pengampunan …
Tuhan telah sering kali memberikan aku kesempatan .. tapi aku mengulanginya kembali … lagi dan lagi …Hati ini menangis … menangis dan menangis … hanya menangis yang dapat aku lakukan saat ini … Semuanya gelap, tidak kulihat setitik pun cahaya … yang ada hanya khayalan … fatamorgana …
Malam semakin larut … mataku tidak dapat terpejam … kurasakan ketakutan yang semakin dalam, semakin menusuk … aku tersesat … tersesat dalam kegelapan ini … aku merasakan kehampaan, kesedihan, perasaan bersalah, marah … semuanya …
Aku berjalan di jalan tak berujung, sendiri … dengan penuh kebingungan … tak berarah dan tidak ada tujuan … semuanya gelap … gelap dan sepi …
Di Kegelapan Malam itu...
, at 9:34 PM, in
Keheningan malam, kegelapan … Suasana yang mencekam
Kegelisahan, kesepian, kesedihan …
Perasaan yang menghampiri hatiku di saat matahari mulai digantikan oleh bulan
Perasaan yang menyelimuti hati dan pikiran ini dengan kegelapan
Pikiran-pikiran jahat, prasangka-prasangka buruk terhadap dunia
Kesepian … merasa seorang diri di dunia ini … tidak diiginkan …
Kesedihan … merasa diri tak berguna … tidak ada apa-apanya
Kegelisahan … akan menjadi apa diri ini di masa depan …
Semakin larut malam ini … semakin aku larut dalam kegelapan
Semakin aku takut untuk menutup mataku …
Hanya satu pintaku setiap malam …
Seberkas cahaya …
Fatamorgana
, at 9:34 PM, in
Pasir …. Sejauh mata memandang hanya pasir yang aku lihat,
Aku berdiri mematung terdiam dengan perasaan tak menentu
Kupandangi sekelilingku dengan penuh kegelisahan dan ketakutan
Ku coba berjalan, berusaha untuk keluar dari semua ini …
Entah berapa lama ku berjalan, tidak kutemukan apapun
Hanya terik matahari dan angin pasir yang menerpaku
Langkahku melambat, tenagaku habis, dadaku sesak
Tak terasa air matakupun mengalir …
Aku terjatuh … terbaring di padang pasir yang luas
Sendiri …
Akhirnya aku melihat sesuatu …
Sesuatu yang selama ini aku cari dan aku inginkan
Aku mulai mengumpulkan tenagaku kembali
Berusaha untuk menggapainya
Aku berjalan menujunya dengan penuh harap dan sebuah senyuman
Aku berjalan … berjalan dan berjalan ….
Semakin aku berusaha untuk mendekatinya, “ia” semakin menjauh …
Sedikit demi sedikit senyumku memudar, harapanku pun memudar ….
Dan akhirnya …. menghilang begitu saja
Beserta fatamorgana yang baru saja kulihat
Aku kembali terjatuh dan terbaring di padang pasir ini
Semakin lama pasir – pasir ini mulai menutupi badanku
Apakah ini akhir dari segalanya ….
Haruskah aku menyerah ….
Atau … terus berjalan …
Di tepi dermaga itu...
, at 9:34 PM, in
Riak sungai itu akhirnya selesai menunaikan tugas
Membawa puisimu mengambang di laut ini
Sebuah puisi yang aneh, katamu
Membuat matari lekas mengaram di mataku
Tapi itu pasti hanya pikirmu saja
Karena aku menikmati isi puisi, bukan kulitnya.
Lalu aku berlari menuju senja
Menangkap sebuah makna
Sebelum siluet tubuh kita lenyap di telan gulita
Tapi tak kudapati sesuatu yang tergenggam
Melainkan siluet hati yang retak di tepi dermaga
Aku lelah menunggu hening, katamu
Lalu di hulu sungai itu kau lemparkan namamu
Bersama rasa yang selalu berkiblat ke sini
Petunjuk itu yang selalu kucari, kini hilang
Sebab sejenak lagi kau bersabar, rasa itu kan berbalas